0
Article Tier 2 Detection Methods Gut & Microbiome Policy & Risk Sign in to save

IDENTIFIKASI MIKROPLASTIK PADA SALURAN PENCERNAAN KEPITING BAKAU (Scylla spp.) DARI PASAR TRADISIONAL KOTA SEMARANG MICROPLASTICS IDENTIFICATION OF MUD CRAB’S GASTROINTESTINAL TRACTS (Scylla spp.) FROM TRADITIONAL MARKET IN SEMARANG

AI summary Read the abstract

Microplastics were identified in the gastrointestinal tracts of mud crabs (Scylla spp.) sold in traditional markets in Semarang, Indonesia, raising food safety concerns. The study documents plastic contamination in a commercially important seafood species from mangrove ecosystems along the northern Java coast.

Body Systems

Indonesia memiliki ekosistem hutan bakau sangat luas yang menyebabkan kepiting bakau (Scylla spp.) banyak hidup dan berkembang di Indonesia. Permintaan pasar yang tinggi menyebabkan kepiting bakau menjadi salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Umumnya, masyarakat membeli kepiting bakau di pasar – pasar tradisional. Jenis kepiting bakau yang berada di utara dan selatan Jawa adalah S. serrata, S. olivacea, dan S. paramamosain. Akan tetapi, kepiting bakau tersebut berisiko terpapar pada mikroplastik, sebagai kontaminan baru. Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kecil dengan panjang 5 mm atau kurang, yang dibedakan menjadi mikroplastik primer dan sekunder. Mikroplastik primer berasal dari partikel plastik yang diproduksi dalam ukuran kecil (≤ 5 mm). Sedangkan mikroplastik sekunder berasal dari pecahan atau kerusakan dari partikel plastik berukuran besar. Ukuran mikroplastik yang kecil menyebabkan penyebarannya luas dan memungkinkan untuk dicerna oleh seluruh organisme laut. Mikroplastik yang tertelan akan melewati sistem pencernaan hewan dan terserap serta terakumulasi di jaringan hewan tersebut. Partikel plastik yang memiliki ukuran ≤ 10 µm dapat terakumulasi di konsumen puncak karena adanya peristiwa rantai makanan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi morfologi dan jumlah mikroplastik dalam saluran pencernaan (GI tract) kepiting bakau yang dijual di pasar tradisional Semarang. Penelitian diawali dengan pembelian kepiting bakau dari enam pasar yaitu pasar Peterongan, Tanah Mas, Gang Baru, Bangetayu, Kobong, dan Karang Ayu. Dari masing-masing pasar diambil 15 ekor kepiting yang diperoleh secara acak. Pencegahan kontaminasi pada bahan cair, alat, dan wilayah kerja yang akan digunakan dengan cara disaring dan diberi etanol 96%. Kemudian sampel diukur panjang, lebar, dan berat utuhnya, lalu dibedah dan ditimbang GI tract-nya. Selanjutnya sampel didestruksi dengan larutan H2O2 30% dengan perbandingan 1:20 (w/v). Proses destruksi berlangsung selama 24 jam pada suhu 65oC lalu didiamkan selama 24 jam pada suhu 25oC. Sampel yang telah terdestruksi di saring menggunakan kertas saring Whatman no 540 dengan ukuran pori 8 µm. Kemudian kertas saring direndam dalam 250 ml larutan NaCl (densitas 1,2 g/cm3) selama 12-24 jam. Setelah itu disaring kembali dengan kertas saring Whatman no 540, lalu sampel disimpan pada cawan petri dan diamati menggunakan mikroskop Olympus BX-41 dengan perbesaran 40x dan 100x. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh GI tract yang diamati mengandung Particle Suspected as Microplastics (PSM) dengan bentuk, warna, rerata total, dan ukuran yang berbeda. Bentuk PSM yang ditemukan adalah fragmen, fiber, dan pelet, dengan bentuk terbanyak adalah fragmen. Warna PSM yang ditemukan adalah biru, ungu, hitam, coklat, merah, putih, kuning, abu-abu, dan hijau, dengan warna terbanyak adalah putih. Hasil rerata PSM berkisar antara 34,39 – 69,60 partikel/organisme dan 6,14 – 12,52 partikel/ gram berat basah sampel. Rerata PSM berbentuk fragmen berkisar antara 23,39 – 61,79 partikel/organisme. Rerata PSM berbentuk fiber berkisar antara 2,04 – 3,98 partikel/organisme. Rerata PSM berbentuk pelet berkisar antara 0,85 – 8,96 partikel/organisme. Nilai rata-rata ukuran PSM yang berbentuk fragmen, fiber, pelet berkisar antara 91,40 – 140,68 µm; 572,02 – 879,27 µm; dan 52,32 – 131,12 µm.

More Papers Like This

Article Tier 2

IDENTIFIKASI MIKROPLASTIK PADA INSANG KEPITING BAKAU (Scylla spp.) DARI PASAR TRADISIONAL DI KOTA MSEMARANG

AI summary Read the abstract

Microplastics were identified in the gill tissues of mangrove crabs (Scylla spp.) collected from a traditional market in Indonesia, raising concerns about human exposure through seafood consumption in a country with high marine plastic pollution. The study contributes to growing evidence of microplastic contamination in commercially harvested crustaceans.

Article Tier 2

Case Study of Microplastics on Blood Cockle from Three Traditional Markets in Semarang

AI summary Read the abstract

This study detected microplastics in blood cockles purchased from traditional markets in Southeast Asia, finding contamination in commercially sold seafood. The results highlight microplastics as a food safety concern for consumers of bivalves in the region.

Article Tier 2

ANALISIS KELIMPAHAN MIKROPLASTIK PADA SALURAN PENCERNAAN KERANG DARAH (Anadara granosa) DI PERAIRAN SUNGSANG, KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN

AI summary Read the abstract

This Indonesian study analyzed microplastic abundance in the digestive tract of blood cockles from Sungsang waters in South Sumatra. Microplastics were found in the bivalves, raising food safety concerns given that cockles are widely consumed in the region.

Article Tier 2

IDENTIFIKASI KANDUNGAN MIKROPLASTIK PADA KERANG HIJAU (Perna viridis) DAN KERANG TAHU (Meretrix meretrix) DI TELUK JAKARTA

AI summary Read the abstract

This Indonesian study identified and quantified microplastics in two commercially important shellfish species — green mussels and blood cockles — characterizing the shapes and types of plastic particles found, which raises concerns about seafood safety and human dietary exposure.

Article Tier 2

The Mud Crab Buffet: Microplastics pollution in Scylla Serrata from Kota Mangroves

AI summary Read the abstract

Researchers recovered 264 microplastic particles from the guts of mud crabs (Scylla serrata) collected from mangroves in Karnataka, India, averaging about 29 particles per crab, with polypropylene, high-density polyethylene, and polyester being the dominant plastics. A hazard index assessment rated the microplastic contamination as a severe risk to the crabs, underscoring the threat to mangrove ecosystems and the seafood that humans consume from them.

Research digests by email

When a large batch of papers lands in the Atlas, we read through it and send a short write-up of what stood out.

Email me about

Share this paper