0
Article ? AI-assigned paper type based on the abstract. Classification may not be perfect — flag errors using the feedback button. Sign in to save

Komposisi Jenis, Bobot dan Tutupan Sampah Laut di Pulau Nusmapi Kabupaten Manokwari

New Phytologist 2025
Paulus Boli, Aryo Wardhani, Thomas Frans Pattiasina, Dedi Parenden

Summary

This study documented marine debris composition, weight, and cover at Nusmapi Island, Manokwari, Indonesia, using line intercept transect methods at three sampling stations. Plastic debris dominated, with highest debris weight at Station 3 (0.238 kg/m²), and ocean currents and rainfall were identified as key factors controlling debris distribution patterns.

Sampah laut (marine debris) merupakan bahan padat hasil aktivitas manusia yang dibuang ke laut, termasuk di pantai, terapung atau tenggelam. Identifikasi komposisi jenis sampah laut serta perhitungan bobot dan tutupan sampah laut perlu dilakukan untuk mendeskripsikan dampak sampah laut dan pengelolaannya. Penelitian ini dilakukan pada Mei 2024 di Pulau Nusmapi Kabupaten Manokwari, pengambilan data dilakukan pada tiga stasiun pengamatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi, bobot, tutupan, dampak, serta mendeskripsikan pengelolaan sampah laut. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan adaptasi metode Line Intercept Transek (LIT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis sampah laut yang ada di Pulau Nusmapi didominasi oleh plastik yang terdiri dari botol air minum, karung, waring, kayu, kelapa, popok bayi, kain, kaca dalam bentuk botol minuman kaca dan pecahan botol, logam atau metal seperti kaleng minuman atau seng, karet seperti karet ban dalam motor dan sandal. Bobot sampah laut ditemukan tertinggi pada Stasiun 3 sebesar 0.238 kg/m2 dan terendah pada Stasiun 2 yakni 0.066 kg/m2. Tutupan sampah laut pada Stasiun 1 tertinggi adalah berasal dari bahan lainnya sebesar 10.16%, Stasiun 2 adalah plastik 8.13% dan Stasiun 3 adalah lainnya 5.79%. Arus dan curah hujan mempengaruhi penyebaran sampah, yang mayoritasnya berasal dari kota, mencemari perairan, merusak ekosistem, dan mengurangi daya tarik wisata. Pengelolaan sampah yang terpadu dari darat hingga ke laut serta penerapan teknologi modern perlu dilakukan dalam mengurangi dampak ini serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Share this paper