We can't find the internet
Attempting to reconnect
Something went wrong!
Hang in there while we get back on track
Kelimpahan Mikroplastik Pada Perairan Di Banyuurip, Gresik, Jawa Timur
Summary
Researchers investigated microplastic abundance across five sites with different activity levels in the waters of Banyuurip, Gresik, East Java, Indonesia, finding that microplastic concentrations were strongly influenced by local human activities and pollution sources.
Mikroplastik merupakan bagian terkecil dari plastik yang berukuran 0,3 mm – >5 mm. Mikroplastik yang masuk ke lingkungan akan terakumulasi di perairan dan tidak mudah dihilangkan karena sifatnya yang persisten. Banyaknya kelimpahan mikroplastik sangat dipengaruhi oleh aktivitas dan sumber pencemarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan dan jenis mikroplastik pada perairan di Banyuurip. Pengambilan sampel perairan dilakukan pada 5 lokasi yang memiliki aktivitas berbeda, yaitu tempat pelelangan ikan (TPI), mangrove, tambak, muara sungai, dan laut lepas. Pengambilan sampel perairan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan mengguakan plakton net dengan volume air tersaring sebanyak 15 L pada setiap stasiun. Idetifikasi mikroplastik menggunakan metode NOAA yang dibagi menjadi 4 tahapan, yaitu penyaringan sampel, pengeringan sampel, pemisahan zat organik dan identifikasi mikroplastik. Perbedaan kelimpahan jenis mikroplastik pada setiap lokasi dianalisis dengan mengukan ANOVA one way. Hasil kelimpahan total yang ditemukan sebesar 57,11 x 10² partikel/m³. Jenis mikroplastik yang ditemukan adalah fragment, fiber, dan film. Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan pada perairan Banyuurip adalah jenis fragment. Hal ini dikarenakan sumber pencemaran mikroplastik jenis fragment lebih besar, yaitu berasal dari limbah rumah tangga dan kegiatan antropogenik. Kelimpahan jenis mikroplastik paling tinggi ditemukan pada mangrove sebesas 22,89 x 10² partikel/m³. Sementara itu, kelimpahan jenis mikroplastik pada lokasi tambak, muara sungai dan laut terbuka memiliki rentang nilai yang tidak jauh berbeda, yaitu 7,11– 8,89 x 10² partikel/m³. Hal ini diduga karena sampah lebih mudah terperangkap di akar-akar mangrove dan terakumulasi lebih banyak.
Sign in to start a discussion.
More Papers Like This
Microplastics Characteristics in The Seawater of Gresik Waters, East Java, Indonesia
Researchers collected seawater samples from six stations in Gresik Waters, East Java, Indonesia, and identified microplastics through visual examination and microscopy. The study characterizes microplastic abundance, morphology, color, and size in this Indonesian marine environment, contributing to baseline pollution data for the region.
Abundance of Microplastics and Hazard to the Environment in Estuary Water in Pemalang, Central Java, Indonesia
Researchers measured microplastic abundance and types at five sampling locations in the estuary waters of the Pemalang River in Central Java, Indonesia, finding persistent microplastic hazards driven by local human activities and plastic waste inputs.
Analisis Kandungan Mikroplastik pada Sedimen di Perairan Semarang, Jawa Tengah
Researchers analyzed microplastic contamination in sediments from Semarang waters in Central Java, Indonesia, documenting the types, abundance, and distribution of microplastics across multiple sampling campaigns linked to the city's high population density and waste generation.
Identifikasi Karakteristik dan Kelimpahan Mikroplastik Pada Sampel Air Kali Surabaya
This Indonesian study characterized microplastic abundance and types in water samples from the Kali Surabaya river in Surabaya. The urban waterway showed widespread plastic contamination, with sources linked to densely populated residential areas along the riverbanks.
Identifikasi Kelimpahan dan Karakteristik Mikroplastik pada Air Kali Mas, Kota Surabaya
This Indonesian study characterized microplastic abundance and type in water from the Kali Mas river in Surabaya. Plastic fragments and fibers were detected throughout the urban waterway, reflecting the impact of dense residential and commercial activity on local water quality.